Welcome to my blog
go to my homepage
Go to homepage

Selasa, 26 Juli 2011

Dimalam dalam tidurku
Ku bermimpi indah
Aneh ku mimpi juga membawa hatiku
Mimpi indah penawar hati letih
Dalam mimpi ku di peluk
Sesosok wanita entah siapa
Aneh ku dada tak lagi sesak
Mimpi itu.. Siapakah dia
Mimpi bukanlah berwujud
Walau mimpi ku ucap hamdalah
Tapi akankah terwujud
Pagi ini teman berkata ku cerah
Cerah nan terhias rasa heran
Bernafas dengan lapang
Beriku tegar tuk berjalan
Beraktifitas di siang


Kamis, 14 Juli 2011

Belajar Efektif

Langkah-langkah belajar efektif adalah mengetahui
  • diri sendiri
  • kemampuan belajar anda
  • proces yang berhasil anda gunakan, dan dibutuhkan
  • minat, dan pengetahuan atas mata pelajaran anda inginkan
Anda mungkin belajar fisika dengan mudah tetapi tidak bisa belajar tenis, atau sebaliknya. Belajar apapun, adalah proces untuk mencapai tahap-tahap tertentu.
Empat langkah untuk belajar.
Mulai dengan cetak halaman ini dan jawab pertanyan-pertanyaannya. Lalu rencanakan strategi anda dari jawaban-jawabanmu, dan dengan "Pedoman Belajar" yang lain.
Mulai dengan masa lalu Apakah pengalaman anda tentang cara belajar? Apakah anda What was your experience about how you learn? Did you
  • senang membaca? memecahkan masalah? menghafalkan? bercerita? menterjemah? berpidato?
  • mengetahui cara menringkas?
  • tanya dirimu sendiri tentang apa yang kamu pelajari?
  • meninjau kembali?
  • punya akses ke informasi dari banyak sumber?
  • menyukai ketenangan atau kelompok belajar?
  • memerlukan beberapa waktu belajar singkat atau satu yang panjang?
Apa kebiasaan belajar anda? Bagaimana tersusunnya? Yang mana terbaik? terburuk?
Bagaimana anda berkomunikasi dengan apa yang anda ketahui belajar paling baik? Melalui ujian tertulis, naskah, atau wawancara?
Teruskanke masa sekarang Berminatkah anda?
Berapa banyak waktu saya ingin gunakan untuk belajar?
Apa yang bersaing dengan perhatian saya? Apakah keadaannya benar untuk meraih sukses?
Apa yang bisa saya kontrol, dan apa yang di luar kontrol saya?
Bisakah saya merubah kondisi ini menjadi sukses?
Apa yang mempengaruhi pembaktian anda terhadap pelajaran ini?
Apakah saya punya rencana? Apakah rencanaku mempertimbangkan pengalaman dan gaya belajar anda?
Pertimbangkan
proses,
persoalan utama
Apa judulnya?
Apa kunci kata yang menyolok?
Apakah saya mengerti? Apakah yang telah saya ketahui?
Apakah saya mengetahui pelajaran sejenis lainnya?
Sumber-sumber dan informasi yang mana bisa membantu saya?
Apakah saya mengandalkan satu sumber saja (contoh, buku)?
Apakah saya perlu mencari sumber-sumber yang lain?
Sewaktu saya belajar, apakah saya tanya diri sendiri jika saya mengerti?
Sebaiknya saya mempercepat atau memperlambat?
Jika saya tidak mengerti, apakah saya tanya kenapa?
Apakah saya berhenti dan meringkas?
Apakah saya berhenti dan bertanya jika ini logis?
Apakah saya berhenti dan mengevaluasi (setuju/tidak setuju)?
Apakah saya membutuhkan waktu untuk berpikir dan kembali lagi?
Apakah saya perlu mendiskusi dengan "pelajar-pelajar" lain untuk proces informasin lebih lanjut?
Apakah saya perlu mencari "para ahli", guruku atau pustakawan atau ahliawan?
Buat
review
Apakah kerjaan saya benar?
Apakah bisa saya kerjakan lebih baik?
Apakah rencana saya serupa dengan "diri sendiri"?Apakah saya memilih kondisi yang benar?
Apakah saya meneruskannya; apakah saya disipline pada diri sendiri?
Apakah anda sukses?
Apakah anda merayakan kesuksesan anda?

Menerapkan Kedisiplinan

Tanaman, ketika Allah menciptakannya dibekali dia dengan potensi tumbuh, bertahan hidup dan berkembangbiak. Hanya kemudian, kita sebagai pemilik tanaman itu berkewajiban merawat ,memelihara, menjaga dan mengolah tanah tempat tumbuhnya sehingga tanaman dapat tumbuh dengan maksimal. Begitu juga dengan manusia.  Anak-anak kita adalah anugerah/titipan dari Alloh SWT yang sudah dari ”sononya” (sunnatulloh) pasti tumbuh dan berkembang bail secara kognitif/aqliyah, afektif/ruhiyah maupun psikomotor/jasadiyah.              Bagi kami sekolah merupakan wahana belajar, bermain, mencari, berkreasi, aktualisasi diri dan mengkonstruksi pemahaman. Hal-hal tersebut dapat maksimal dilakukan Ananda (murid) jika lingkungan (sekolah & keluarga) disetting sedemikian rupa sehingga mendukung itu semua. Bagaimana jadinya, jika lingkungan yang dihadapi ananda setiap hari adalah suatu lingkungan penuh aturan dan larangan-larangan yang secara terus menerus tersimpan di subconscious /alam bawah sadar mereka. Masya..Alloh dunia seakan sempit, tidak bebas dan penuh dengan batasan. Berbeda 180 derajad dengan alamnya anak-anak yang seharusnya tanpa beban, ekspresif, bebas dan menyenangkan.             Pendidikan disiplin merupakan suatu proses bimbingan yang bertujuan menanamkan pola perilaku tertentu, kebiasaan-kebiasaan dan mewujudkan anak-anak menampilkan ciri-ciri dan karakter tertentu. Setiap orangtua pasti berusaha untuk mengajarkan disiplin kepada anak-anaknya, dengan menanamkan perilaku yang dianggap baik dan menghindari perilaku yang dianggap tidak baik. Hal ini memang akan lebih mudah dilakukan jika anak sebagai seorang individu mematuhi kemauan orang tuanya. Namun demikian, tujuan utama dari disiplin bukanlah  hanya sekedar menuruti perintah atau aturan saja. Patuh terhadap perintah dan aturan merupakan bentuk disiplin jangka pendek. Sedangkan tujuan pendidikan disiplin adalah agar setiap individu memiliki disiplin jangka panjang, yaitu disiplin yang tidak hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap aturan atau perintah, tetapi lebih kepada pengembangan kemampuan untuk mendisiplinkan diri sendiri/mengatur dirinya sendiri.             Penerapan kedisiplinan sedapat mungkin dilakukan tidak dengan cara otoriter, tetapi juga tidak terlalu membebaskan (permisif). Cara yang tepat dalam pendidikan disiplin adalah fleksibel, tetapi bila perlu tegas. Disiplin yang keras seperti memberi hukuman fisik, dapat menimbulkan anak menjadi seorang penakut,  tidak ramah dengan orang lain,  dan membenci orang yang memberi hukuman, kehilangan spontanitas serta inisiatif bahkan ada pula yang pada akhirnya melampiaskan kemarahannya pada orang lain. Dibutuhkan sebuah proses komunikasi yang intens dan membangun dalam menerapkan kedisiplinan. Aturan kita pahamkan kepada Ananda  sebagai sebuah hal yang harus dilakukan, yang memang secara sadar mereka tahu manfaat dan kerugian dari penerapan aturan itu. Sehingga manfaat mentaati peraturan/berperilaku disiplin di bangun dari sebuah kesadaran anak-anak kita, bukan dari perspektif/sudut pandang orang tua saja. Mereka secara sadar mentaati peraturan dan akan dengan sendirinya menampilkan ciri/karakter yang baik.             Keteladanan dan berkelanjutan merupakan media yang ampuh untuk memupuk kedisiplinan. Anak lebih memperhatikan perbuatan yang kita lakukan daripada sekedar himbauan/suruhan. Nilai-nilai kedisiplinan, tidak  hanya ditekankan pada waktu anak membuat perilaku yang tidak diinginkan atau pada waktu anak gagal mencapai harapan tertentu. Perilaku-perilaku yang diinginkanpun perlu mendapatkan pengakuan, persetujuan atau penghargaan. Disiplin lebih pada pendidikan di ranah pembentukan karakter. Perlu proses, kesabaran dan doa yang terus menerus.             Dan orang-orang berkata : Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturuna kami (anak) sebagai penyenang hati dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa (Al Furqon : 74). Waallohu a’lam bishowab.  

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons